
InfoPenerbangan,- Tiga maskapai penerbangan asal Vietnam resmi menjalin kerja sama besar dengan produsen pesawat asal Amerika Serikat, Boeing.
Total sebanyak 90 unit pesawat dipesan dalam kesepakatan yang diteken pada Kamis (19/2/2026), di tengah berlangsungnya pembahasan perjanjian perdagangan baru antara Vietnam dan Amerika Serikat.
Penandatanganan ini berlangsung saat kunjungan Ketua Partai Komunis Vietnam, To Lam, ke Amerika Serikat. Kunjungan tersebut bertepatan dengan pertemuan perdana Dewan Perdamaian, sebuah inisiatif yang diluncurkan Presiden AS Donald Trump untuk membahas berbagai isu konflik global.
Vietnam Airlines Pesan 50 Boeing 737-8
Maskapai nasional Vietnam Airlines mengumumkan penandatanganan kontrak senilai US$ 8,1 miliar untuk pembelian 50 unit pesawat berbadan sempit Boeing 737-8. Pengiriman armada baru tersebut dijadwalkan berlangsung secara bertahap mulai 2030 hingga 2032.
Dengan tambahan ini, Vietnam Airlines menargetkan total armadanya mencapai sekitar 151 pesawat pada 2030. Selain itu, maskapai pelat merah tersebut juga tengah menjajaki pembelian tambahan hingga 30 pesawat berbadan lebar dari Boeing dengan potensi nilai transaksi mencapai US$ 12 miliar.
Sun PhuQuoc Airways dan Vietjet Ikut Perkuat Armada
Tak hanya Vietnam Airlines, maskapai baru Sun PhuQuoc Airways juga meneken kesepakatan jumbo senilai US$ 22,5 miliar untuk pengadaan 40 unit Boeing 787-9 Dreamliner. Pesawat berbadan lebar ini dikenal untuk rute jarak jauh dengan efisiensi bahan bakar yang lebih baik.
Sementara itu, maskapai berbiaya rendah Vietjet memperoleh dukungan pembiayaan sebesar US$ 965 juta dari Griffin Global Asset Management untuk pembelian enam unit Boeing 737-8.
Strategi Dagang di Tengah Tarif AS
Langkah pembelian besar-besaran ini juga dipandang sebagai bagian dari strategi diplomasi ekonomi Vietnam. Sebelumnya, pemerintah Vietnam menyatakan kesiapan untuk meningkatkan impor produk asal Amerika Serikat, menyusul keputusan Gedung Putih pada Oktober lalu yang mempertahankan tarif 20% untuk sebagian besar produk Vietnam, meski sejumlah komoditas tertentu dibebaskan dari bea masuk.
Kesepakatan pembelian pesawat ini dinilai tidak hanya memperkuat kapasitas industri penerbangan Vietnam, tetapi juga menjadi sinyal positif dalam hubungan dagang kedua negara yang tengah bernegosiasi.(*)
