DomestikHighlight

Bandara Kemayoran, Nasibmu Kini

Indonesia memiliki bandar udara (bandara) internasional untuk kali pertama yakni di daerah Kemayoran, Jakarta. Bandara Kemayoran dibangun pada tahun 1934 dan secara resmi dibuka pada 8 Juli 1940.

Perjalanan dan perkembangan Bandara Kemayoran terus memasuki babak bersejarah Indonesia sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda, pendudukan Jepang hingga memasuki masa kemerdekaan Indonesia.

Tahun 1945 hingga 1964, pengelolaan bandara di bawah tanggung jawab Djawatan Penerbangan Sipil dan sejak 1964 hingga 1985, Bandara Internasional Kemayoran diserahkan dan dikelola oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, tepatnya Perum Angkasa Pura.

Namun, predikat sebagai bandara internasional tak lagi dimiliki oleh Kemayoran sejak kehadiran bandara baru di kawasan Cengkareng tahun 1985.

Pada masa jayanya, Bandara Kemayoran menjadi kebanggan bangsa Indonesia. Pesawat-pesawat sipil dari dalam dan luar negeri hingga pesawat militer bermesin piston, propeler, hingga turbojet pernah mendarat di Bandara Kemayoran.

Bandara Kemayoran seakan menjadi “kiblat” dari patung-patung yang ada di pusat kota Jakarta seperti Tugu Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia dan Patung Dirgantara di daerah Pancoran.

Pada penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang pertama kali, Bandara Kemayoran menjadi pintu gerbang para delegasi dari negara-negara peserta KAA.

Namun jika kita menengok kondisinya saat ini sejarah itu seakan menguap begitu saja. Beberapa area Bandara Kemayoran saat ini telah berubah fungsi sebagai tempat bisnis. Sisa-sisa bandar udara tak terurus, terlebih di area menara kontrol lalu lintas udara. Lapangan yang dulunya menjadi area pesawat berlabuh, kini tertutup ilalang, penuh pohon-pohon liar, dan semak belukar.

Beberapa bangunan yang menjadi saksi bisu sejarah masih dapat kita lihat, seperti dua menara kontrol, yang kondisinya sudah tidak terawat. Meski sudah dicat kembali, bagian dalam bangunan ini tampak tua, dan kotor. Hal yang tak jauh berbeda dijumpai di gedung terminal.

Padahal, di dalam bangunan yang porak-poranda dan berdebu tersebut masih bisa ditemui sebuah mahakarya. Tepatnya di bekas ruangan VIP, sebuah karya seni relief yang menunjukkan identitas bangsa Indonesia. Konon, relief tersebut diprakarsai langsung oleh Presiden Soekarno. Relief yang dibuat pada tahun 1957 mempunyai tiga bagian, yang pertama menceritakan tentang legenda Sangkuriang, yang kedua bertemakan manusia Indonesia dan yang terakhir bertemakan flora dan fauna nusantara.

Kondisi seperti itu membuat beberapa komunitas khususnya komunitas pencinta penerbangan merasa miris dan prihatin. Walaupun oleh pemerintah daerah sudah dijadikan bangunan cagar budaya, seharusnya bangunan menara pengawas dan gedung terminal yang menjadi sisa-sisa kejayaan dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih berguna daripada dibiarkan terbengkalai begitu saja.
Lebih jauh, diharapkan kawasan Bandara Kemayoran bisa dijadikan sebagai museum kedirgantaraan Indonesia, dan area sekitarnya bisa dijadikan ruang terbuka hijau. Komunitas tersebut membuat petisi di change.org (http://bitly.com/SaveKMO).

Sudah semestinya kita jaga dan lestarikan bersama salah satu peninggalan sejarah dirgantara Indonesia. (Fjn/Jrs)

(Foto: AVIASI/Fajrin Raharjo)

Tags

Related Articles

1 thought on “Bandara Kemayoran, Nasibmu Kini”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close