Hot NewsInternasionalNews

Etihad Airways Rugi, Airbus dan Boeing Waspada

Infopenerbangan,- Airbus dan Boeing tengah waspada dengan kemungkinan adanya gangguan order yang signifikan dari maskapai raksasa asal Timur Tengah, Etihad Airways, seperti dikutip dari airwaysmag (7/5/18).

Perusahaan penerbangan yang berbasis di Abu Dhabi baru saja membukukan kerugian sebesar $ 2 miliar menyusul kebangkrutan Air Berlin dan Alitalia, dua maskapai penerbangan yang merupakan bagian dari investasi signifikan yang dilakukan oleh kelompok Emirat.

Sebagai hasil dari kerugian besar ini, Etihad melakukan peninjauan menyeluruh terhadap perusahaan. Etihad saat ini memegang pemesanan yang besar untuk 160 unit pesawat milik Airbus dan Boeing. Operator mungkin mencari opsi untuk menukar model, menunda pengiriman, atau berpotensi melakukan pembatalan langsung. Namun, baik Etihad maupun Boeing dan Airbus menolak berkomentar.

Seorang juru bicara Boeing mengutip kebijakan perusahaan untuk “tidak mengomentari jadwal pengiriman atau diskusi dengan pelanggan”. Senada dengan Boeing, Airbus mengatakan pembicaraan dengan pelanggan merupakan rahasia perusahaan.

Etihad memiliki 88 Airbus dan 78 jet Boeing dengan pesanan senilai puluhan miliar dolar, sebagian besar dari kesepakatan yang ditandatangani pada tahun 2013, yang dijadwalkan untuk memulai pengiriman dari tahun ini.

Sebagian besar pesawat dipesan ketika Etihad sedang mengejar strategi ekspansi agresif untuk mengimbangi saingan regional Emirates dan Qatar Airways. Strategi ekspansi itu tampaknya ambruk tahun lalu ketika Air Berlin dan Alitalia mengajukan kebangkrutan setelah Etihad berinvestasi di dalamnya.

Air Berlin, salah satu investasi terbesar Etihad, menghentikan operasinya Oktober lalu, sementara Alitalia, yang paling terkenal, tidak mungkin mengambil pesawat karena proses kepailitan terus berlanjut. Etihad saat ini memegang saham di empat maskapai lain. (*/NP)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close