DomestikHighlightHot NewsNews

Ini Dia Kelemahanan Bandara di Indonesia

Seperti yang telah banyak diberitakan kemarin malam, Minggu (25/9/2016), pesawat Learjet tipe LJ31 milik PT National Air Charter tergelincir saat mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Menurut Kepala BMKG Andi Eka Sakya, seperti dikutip dari detikcom, sebenarnya hal itu bisa dihindari jika pilot mengetahui informasi visibility dari pihak tower di bandara. Karena biasanya, pihak bandara sudah menginformasikan keadaan di landasan sebelum pilot mendaratkan pesawat.

“Ya bisa dikurangi. Salah satu informasi diberikan kawan-kawan di bandara adalah visibility terkait dengan keadaan seperti hujan, kabut, dan asap. Di dalam visibility itu, pilot harusnya sudah bisa menjustifikasi apakah dia melakukan landing atau tidak,” ┬ájelas Andi.

Bandara di Indonesia, jels Andi, rata-rata mempunyai kelemahan terhadap masalah informasi cuaca. Indonesia masih kekurangan peralatan cuaca seperti AWOS atau Automated Weather Observing System.

“Kalau boleh saya katakan kelemahan bandara di Indonesia yaitu peralatan. Kalau manusia biasa kan tidak cukup. Peralatan ini (AWOS) perlu sekali. Untuk bisa dipasang di berbagai bandara di seluruh Indonesia. Manusianya tidak cukup untuk mencover semuanya,” jelas Andi Eka Satya.

Peralatan yang ada di bandara saat ini tidak cukup hanya dengan diperbaharui namun juga harus dipasang alat yang canggih. Hal itu demi keamanan penerbangan seperti pendaratan di bandara. (*/RF)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close