DomestikHot NewsNews

Penjelasan AirNav Soal Pelanggaran Instruksi Menteri

Infopenerbangan – Indonesia Air Traffic Controller Association (IATCA) Jakarta menilai jajaran direksi AirNav melanggar Instruksi Menteri karena mengizinkan maskapai untuk menambah penerbangan per jam.
Oleh karena itu pihaknya meminta Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi melakukan investigasi terhadap jajaran direksi Perum Navigasi atau AirNav Indonesia terkait adanya pelanggaran Instruksi Menteri Perhubungan No 8 tahun 2016 tentang perataan Distribusi Jadwal Penerbangan Dan Slot Time Di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta Untuk Peningkatan Pelayanan Dan Keselamatan Penerbangan.
Dalam Poin kedua IM No 8/2016 itu menyebutkan, untuk regular flight dibatasi paling banyak maksimum 72 pergerakan per jam. Namun, pada 25 Juli 2017 lalu, Andre Budi Wakil Ketua I Dewan Pimpinan Cabang Indonesia Air Traffic Controller Association mengungkapkan, jajaran direksi AirNav melanggar Instruksi Menteri karena mengizinkan maskapai untuk menambah penerbangan per jam.
Terkait hal ini, Corporate Secretary AirNav Indonesia, Didiet K. S. Radityo menjelaskan bahwa Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau dikenal dengan AirNav Indonesia terus berbenah diri untuk meningkatkan layanan navigasi penerbangan. Sejumlah langkah pembenahan terus dilakukan mulai dari peningkatan investasi, pembaruan peralatan hingga pening-katan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
“Saat ini kita sedang melakukan penyegaran, mutasi maupun rotasi. Ini merupakan hal yang lazim di semua organisasi. Mutasi dilakukan oleh manajemen dengan mempertimbangkan kepentingan perusahaan dan kepentingan karyawan bersangkutan,”ujar Didiet.
Dia menjelaskan, hal ini menjadi sarana evaluasi perusahaan terhadap SDM, pembinaan manajeman dan meningkatkan produktivitas kinerja.
Selain itu, mutasi juga berpengaruh positif untuk karyawan. Rotasi itu menghilangkan hambatan psikologis. Rotasi akan memberi kesegaran bagi karyawan. Adalah fakta bahwa jika satu orang ada bagian tertentu dan lokasi tertentu selama bertahun-tahun pasti akan mengalami kejenuhan dan kebosanan. Karena itu perlu penyegaran. Biasanya ukuran yang dipakai, kalau sudah 3 tahun pindah supaya mengalami penyegaran, dapat suasana baru dan challenge baru.
“Hari ini kami merotasi beberapa pejabat, kemarin juga, beberapa minggu lalu juga. Yang muda-muda dan potensial kita promosikan, yang senior dan berpengalaman kita tugaskan untuk memantau dan melakukan percepatan di daerah. Dan jangan lupa di setiap level tingkatan diadakan mutasi dan rotasi,” ujar Didiet.
Selain itu, AirNav juga meningkatkan kualitas SDM dengan mengirim sejumlah SDM terbaik untuk meniumba ilmu di Prancis. “Kami bekerjasama dengan ENAC mengirim SDM kita untuk belajar di sana. Kami juga membuat short course di Indonesia dengan mendatangkan expert dari luar,” terang Didiet.
Dia menyampaikan, hal ini perlu dilakukan karena Airnav melakukan investasi besar-besaran dalam dua tahun ini untuk meremajakan peralatan navigasi penerbangan. Tahun 2016 AirNav mengalokasikan anggaran investasi sebesar Rp2,23 Triliun dan tahun ini sebesar Rp 2,1 triliun.
“Kita genjot investasi. Tahun ini kita sudah operasikan Instrumen Landing System (ILS) di Jambi sehingga jika terjadi bencana asap seperti tahun sebelumnya, penerbangan bisa tetap beroperasi. Kita bangun beberapa tower tahun ini, baik peremajaan maupun pembangunan di bandara baru seperti di Kertajati. Jadi investasinya cepat, perkembangan SDM juga harus seiring,”ujarnya.
Terkait bandara Soekarno-hatta, Didiet menyampaikan, Airnav juga melakukan sejumlah terobosan di bandara terpadat di Indonesia tersebut. AirNav Indonesia tiap tahunnya melakukan peningkatan kapasitas penerbangan di Bandara Soekarno Hatta sesuai dengan instruksi kementerian perhubungan.
Pada tahun 2012 sebelum AirNav dibentuk kapasitas bandara Soekarno-Hatta hanya 52 pergerakan per jam. Di tahun 2013 setelah AirNav Indonesia terbentuk kapasitas penerbangan di bandara Soekarno-Hatta meningkat sebanyak 64 pergerakan.Peningkatan tersebut didukung oleh imlementasi procedur SID-STAR RNAV-1 dan pengoprasian tower dual desk (utara-selatan) serta ASMGCS Tahap Pertama.
Pada tahun 2013 kapa-sitas penerbangan kembali meningkat menjadi 68 pergerakan. Pada tahun di tahun 2014 menjadi 72 pergerakan, dan di tahun 2017 ini dalam rangka menyukseskan pro-gram kepariwisataan, Airnav Indonesia meningkatkan kapasitas bandaranya menjadi 76 pergerakan per jam.
“Sebab Soekarno-Hatta masih menjadi hub utama penerbangan nasional. Karena itu kapasitas penerbangan kita tingkatkan terus,” ujar Didiet. Tahun ini, AirNav juga mengoperasikan ASM-GCS level 2 di bandara Soekarno-Hatta sehingga semua pergerakan pesawat maupun kendaraan dapat terpantau. (Fjn)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close