
InfoPenerbangan,- Sebuah tragedi udara mengguncang Kolombia pada 28 Januari 2026, setelah sebuah pesawat bermesin ganda yang membawa 15 orang, termasuk seorang anggota parlemen dan seorang calon legislatif, tidak berhasil mendarat dan jatuh di kawasan pegunungan di timur laut negara itu, dekat perbatasan dengan Venezuela.
Pesawat jenis Beechcraft 1900D dengan nomor registrasi HK-4709, dioperasikan oleh maskapai milik negara Satena, lepas landas dari Bandar Udara Internasional Camilo Daza di Cúcuta pada pagi hari menuju Ocaña, sebuah kota pegunungan yang umumnya hanya ditempuh dalam waktu sekitar 30–40 menit.
Namun, sekitar 12 menit setelah lepas landas, pesawat kehilangan kontak dengan menara pengendali lalu lintas udara. Radar terakhir menunjukkan posisi pesawat sebelum sinyal lenyap, tanpa adanya aktivasi sinyal darurat.
Pencarian yang dilakukan oleh otoritas Kolombia, termasuk Angkatan Udara dan tim darurat, berhasil menemukan lokasi kecelakaan di daerah Curasica, Playa de Belén sebuah wilayah pedesaan yang dikelilingi pegunungan tinggi dan hutan lebat.
Pemerintah kemudian mengonfirmasi bahwa seluruh 15 orang yang berada di dalam pesawat dinyatakan tewas, termasuk 13 penumpang dan dua awak pesawat. Identifikasi korban masih berlangsung, di tengah medan yang sangat sulit dijangkau.
Dua di antara korban yang paling mencuri perhatian publik adalah:
Diógenes Quintero, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kolombia yang terpilih sebagai representatif untuk daerah yang terdampak konflik bersenjata, seorang advokat hak asasi manusia berusia 36 tahun.
Carlos Salcedo, seorang calon anggota parlemen yang tengah berkampanye menjelang pemilihan legislatif mendatang.
Kematian kedua tokoh ini menambah duka masyarakat Kolombia, terutama di kalangan komunitas yang mereka wakili.
Medan dan Tantangan Pencarian
Lokasi kecelakaan berada di wilayah pegunungan Andes timur yang terkenal dengan topografi terjal, vegetasi lebat, serta cuaca yang cepat berubah. Kondisi geografis ini menjadi tantangan besar bagi tim pencarian dan evakuasi, serta memperlambat proses identifikasi korban.
Selain itu, kawasan itu dikenal memiliki aktivitas kelompok bersenjata seperti ELN (Tentara Pembebasan Nasional) dan faksi lain, yang menambah kompleksitas operasi di lapangan.
Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan belum dapat dipastikan. Otoritas penerbangan sipil Kolombia bersama tim penyelidik telah memulai pemeriksaan teknis untuk menentukan apa yang menyebabkan pesawat jatuh — apakah faktor cuaca, masalah teknis, atau lainnya.
Presiden Kolombia dan pejabat publik lainnya telah menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga korban dan mendesak agar investigasi dilakukan secara menyeluruh.
Tragedi ini mengguncang masyarakat dan menyoroti tantangan transportasi udara di daerah pegunungan, di mana pesawat sering menjadi sarana utama mobilitas akibat sulitnya akses darat.(*)
