Uncategorized

TERLILIT HUTANG, AIR INDIA TERANCAM BANGKRUT

Infopenerbangan – Air India harus menghentikan operasinya jika gagal memperoleh pembeli perusahaannya. Maskapai penerbangan nasional negara itu kini dililit utang.

“Setelah mengundang penawaran, kami akan melihat berapa banyak tawaran yang akan masuk,” kata Menteri Penerbangan India, Hardeep Singh Puri, kepada Parlemen, dikutip RT, Jumat (28/11/2019).

Para pejabat sedang menyelesaikan proses mengundang penawaran dari sektor swasta. Tahun lalu, pemerintah India gagal memperoleh penawar saat mencoba menjual 76 persen saham maskapai dan membebani utang US$5,1 miliar. Total beban utang Air India US$11 miliar.

Pemerintah India, menurut Puri, sedang mengevaluasi kembali beberapa syarat dan terbuka untuk menjual maskapai secara keseluruhan. Salah satu rintangan terbesar adalah jumlah karyawan yang besar, sekitar 9.400 pekerja tetap dan 4.200 pekerja kontrak. Menteri Puri mengatakan, pemerintah India berkomitmen untuk mengamankan kesepakatan yang menguntungkan bagi karyawan Air India.

Maskapai ini berjuang membayar gaji dan membeli bahan bakar, mengalami kerugian setelah upaya privatisasi sebelumnya. Juru bicara Air India, Dhananjay Kumar, mengatakan kepada AFP, perusahaan itu tidak dapat membayar utang. Prospeknya suram.

“Kami konsentrasi pada operasi sehari-hari dan tidak fokus pada masa depan. Apa pun sumber daya yang kami miliki, kami berusaha menggunakannya dan mencoba menjalankan penerbangan kami secara optimal,” katanya.

Air India didirikan dengan nama Tata Airlines pada 1932 kemudian diambil alih negara. Maskapai ini telah mengalami kerugian selama lebih dari satu dekade. Perusahaan yang dulu dikenal sebagai ‘Maharaja langit’ ini telah kehilangan pangsa pasar karena kompetitor memasang tarif rendah.

Air India menerbangi 43 kota di 31 negara dan 55 kota di dalam negeri. Maskapai ini masih satu-satunya penerbangan India yang mengoperasikan penerbangan jarak jauh.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close