Ragam

FATIGUE DI DALAM PENERBANGAN

JIKA KELELAHAN DI DALAM PENERBANGAN

Infopenerbangan,- Fatigue berasal dari bahasa latin yaitu “fatigare” yang berarti hilang lenyap (waste time).  Secara umum dapat diartikan sebagai perubahan dari keadaan yang lebih kuat ke kondisi yang lebih lemah.

Dalam pengertian kedokteran adalah penurunan kekuatan otot yang disebabkan kehabisan tenaga dan peningkatan sisa-sisa metabolisme. Dalam pengertian psikologi adalah keadaan mental dengan ciri-ciri menurunnya motivasi, ambang rangsang yang menaik/tinggi, menurunnya kecermatan dan kecepatan pemecahan persoalan.

Bagi praktisi kesehatan dirgantara yang memandang manusia secara utuh, fatigue ialah berkurangnya performa keahlian dikarenakan penggunaan keahlian itu terlalu lama atau berulang-ulang. Hal ini dapat diperbesar oleh faktor-faktor stres fisik, fisologis dan psikologis.

Faktor utama terjadinya fatigue yaitu: waktu harian (antara pukul 00.00 dan 06.00 adalah waktu yang buruk); utang tidur yang menumpuk (akumulasi lebih dari 8 jam adalah hal yang buruk); utang tidur sesaat (kurang dari 8 jam tidur dalam periode 24 jam sebelumnya adalah hal yang buruk); waktu terjaga yang kontinyu (lebih dari 17 jam sejak periode tidur “utama” terakhir adalah hal yang buruk); dan waktu kerja (bekerja secara kontinyu tanpa jeda rehat).

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 28 tahun 2013 tentang PKPS Bagian 121 Subbag P No 121.465 dan 121.467 mengatur secara khusus tentang Jam Terbang, Jam Kerja dan Jam Istirahat bagi Awak Kokpit dan Awak Kabin.

Secara umum semua personel yang berkualifikasi dalam industri penerbangan diatur secara ketat oleh sistem penjadwalan dinas dengan ketentuan dasar sebagai berikut:

  1. Maksimum flight time (jam terbang) adalah sembilan jam dalam penjadwalan 24 jam (khusus untuk awak kokpit).
  2. Maksimum duty period (jam kerja) adalah 14 jam dalam penjadwalan 24 jam (untuk awak kokpit dan awak kabin).
  3. Minimum rest period (jam istirahat) adalah Sembilan jam sebelum jadwal dinas berikutnya (untuk awak kokpit dan awak kabin).

Peraturan ini diterbitkan atas dasar pertimbangan fisiologis tubuh manusia yang mengikuti ritme sikardian dalam pengaturan pola istirahatnya. Bila pengaturan tersebut tidak diikuti sebagaimana mestinya, maka awak kokpit dan awak kabin berpotensi tinggi mengalami fatigue.

FATIGUE DI DALAM PENERBANGAN
Ilustrasi

Gejala Awal Fatigue

  • Gejala-gejala subjektif yaitu: sakit kepala yang tak jelas sebabnya, hilangnya nafsu makan, diarem banyak berkemih, fisik lesu.
  • Gejala-gejala objektif yaitu: tension tremor, respons kaget meningkat, bertambahnya konsumsi rokok dan alkohol, bertambahnya nafsu seks, mudah tersinggung, mencari kesalahan, terlalu kritik, cemas dan takut, preokupasi dan absent mindedness, tidak tegas, gagal bergaul, mengambil risiko yang tak perlu dalam penerbangan.

Gejala Akhir Fatigue

  • Gejala-gejala subjektif yaitu: gangguan yang tak jelas pada penglihatan dan pendengaran, gangguan dada yang tak jelas (nyeri dada sebelah kiri, palpitasi, sukar bernapas), sensasi panas saat berkemih, konsentrasi dan tingkat keasaman yang tinggi, susah buang air besar dan perut membesar, perasaan tidak enak atau sakit pada tungkai yang tak jelas, sukar tidur dan tak dapat beristirahat, tidak sanggup berkonsentrasi lama, nafsu seks berkurang, pingsan mendadak.
  • Gejala-gejala objektif yaitu: berkurangnya respons kaget, kondisi bingung dan penuh ketakutan, merasa tidak/kurang berharga, berkurangnya minat-semangat-perhatian-ingatan, berkurangnya kebersihan pribadi, tidak suka bergaul, timbul kedutan pada pelupuk mata dan otot wajah, timbul gagap dan gangguan irama jantung.

Gejala-gejala ini perlu diperhatikan mengingat tidak adanya pengukuran fatigue secara jelas. Praktisi kesehatan dirgantara harus mengenal status terkini dari awak pesawat, baik status fisik maupun mentalnya; apabila didapati salah satu gejala, observasi baik tingkah lakunya, kalau perlu diambil tindakan.

Pencegahan Fatigue

  • Tidur

Tidur adalah suatu cara istirahat yang sangat baik. Tidur harus cukup. Lama tidur sering tidak sama tiap individu. Untuk awak pesawat rata-rata delapan jam sehari. Akomodasi harus baik, jauh dari gangguan-gangguan dan keributan, harus dipisahkan dengan yang bukan awak pesawat. Kalau memungkinkan, pilot dipisahkan dari crew yang lain.

  • Masa off duty

Harus digunakan sebaik-baiknya dan santai. Jangan sampai malah melelahkan. Misalnya esoknya mau terbang malamnya begadang sampai malam.

  • Masa cuti

Harus diambil dan dijalani dengan sebaik-baiknya, terutama  penting untuk mencegah chronic fatigue. Masa bersama, bersenang-senang dengan keluarga sangat berguna untuk mengembalikan kesamaptaan fisik dan mental awak pesawat.

  • Selama operational duty

Harus diperhatikan dan diikuti reaksi penerbangannya. Kalau ada hal-hal yang mencurigakan harus cepat diambil tindakan. Yang penting setiap selesai tugas harus istirahat sempurna.

  • Penyediaan fasilitas istirahat pada pesawat

Ini pada pesawat angkut dimana waktu penerbangannya lama dan ada crew pengganti.

(Oleh Dr. Wendri W.P Pelupessy)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close