
InfoPenerbangan,- PT Garuda Indonesia dikabarkan mengandangkan sekitar 15 pesawat akibat kesulitan membayar biaya perawatan.
Disebutkan pula, beberapa pemasok dari maskapai tersebut juga meminta pembayaran di muka untuk suku cadang dan tenaga kerja karena kekhawatiran atas situasi keuangan Garuda.
Sebagian besar pesawat yang dikandangkan adalah armada yang dioperasikan oleh unit berbiaya rendah Garuda, PT Citilink. Maskapai ini memiliki 66 pesawat yang beroperasi dan 14 pesawat yang disimpan, menurut data terakhir yang tersedia dari Cirium, yang melacak armada-armada penerbangan.
Sekretaris Perusahaan Garuda mengatakan proses perawatan armada pesawat ini akan dilaksanakan tahun ini. Kondisi keterbatasan supply chain atas suku cadang saat ini juga tengah dihadapi hampir seluruh pelaku industri penerbangan.
“Sehingga menyebabkan pelaksanaan heavy maintenance membutuhkan waktu yang lebih panjang,” kata Sekretaris Perusahaan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Rabu, 7 Mei 2025.
Rahmat menyampaikan, keseluruhan proses perawatan armada tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada tahun ini. Meski demikian, ia mengatakan bahwa tidak dapat dipungkiri kondisi keterbatasan supply chain atas suku cadang saat ini tengah dihadapi hampir seluruh pelaku industri penerbangan.
Kondisi ini menyebabkan pelaksanaan heavy maintenance Garuda Indonesia membutuhkan waktu yang lebih panjang.
“Dapat kami sampaikan pula bahwa proses heavy maintenance sendiri diperlukan guna memastikan standar keselamatan dan kelaikan terbang tetap terjaga untuk pesawat yang akan dioperasikan,” jelas Rahmat.
Sejalan dengan langkah optimalisasi armada tersebut, Garuda Indonesia sejak akhir 2024 telah mendatangkan empat armada narrow body yakni Boeing 737-800NG (PK-GUF dan PK-GUG), sementara itu dua lainnya (PK-GUH dan PK-GUI) mulai beroperasi pada kuartal II 2025.
Rahmat menuturkan, langkah ini sejalan dengan pemulihan permintaan dan peningkatan trafik penumpang pasca pandemi serta pertumbuhan sektor pariwisata nasional.
“Optimalisasi kapasitas produksi ini yang ke depannya akan terus kami selaraskan dengan outlook kinerja Perusahaan sesuai dengan pertumbuhan demand pasar, guna memastikan penguatan landasan kinerja usaha dapat senantiasa terjaga secara berkelanjutan,” kata Rahmat.(*)
