News

GARUDA SETOP OPERASI PESAWAT BOMBARDIER DAN ATR!

InfoPenerbangan,- PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menyatakan akan berhenti mengoperasikan pesawat jenis Bombardier CRJ-1000 dan ATR 72-600. Kedua jenis pesawat itu yang membuat perseroan rugi karena ada korupsi dalam proses pengadaannya.

Kejaksaan Agung sebelumnya membongkar kasus korupsi pengadaan kedua jenis pesawat tersebut yang berlangsung sejak 2011.

Direktur Human Capital Garuda Indonesia Arya Perwira Adileksana mengatakan seluruh pesawat Bombardier CRJ-1000 akan dikembalikan kepada lessor. Garuda tercatat memiliki 18 unit pesawat Bombardier dan 12 di antaranya sudah dikembalikan kepada lessor Nordic Aviation Capital (NAC) pada Februari 2021.

“Kami memutuskan stop Bombardier CRJ-1000 dan ATR. Bombardier seluruhnya dikembalikan,” ujar Aryaperwira dalam rapat bersama Komisi V DPR, Selasa, 28 Juni 2022.

Sedangkan pesawat ATR akan dioperasikan seluruhnya oleh Citilink. Anak usaha Garuda Indonesia itu memiliki rute regional jangka pendek yang dianggap cocok dengan karakteristik armada jenis ATR.

“Pesawat ATR akan diterbangkan oleh Citilink. Jadi untuk bandara-bandara yang hanya bisa didarati oleh pesawat ATR, nanti seluruhnya akan kami alihkan ke maskapai Citilink,” jelasnya.

Rute-rute yang penerbangan yang diterbangi pesawat Bombardier pabrikan Montreal, Kanada, akan diganti dengan armada eksisting milik perseroan seperti Boeing 737-800.

Jaksa Agung Sanitiar Burhanudin mengatakan kerugian negara dari kasus korupsi Garuda Indonesia mencapai Rp 8,8 triliun. “Utamanya haru ini kami mendapatkan penyerahan hasil audit pemeriksaan kerugian negara PT Garuda senilai kalau diindonesiakan Rp 8,8 triliun,” kata Burhanudin dalam konferensi pers di Kantor Kejaksaan Agung pada Senin, 27 Juni 2022.

Kepala BPKP Muhammad Yusuf Ateh mengatakan kerugian negara ini terhitung dari pengadaan pesawat CRJ-1000 dan pesawat ATR 72-600 sebanyak 23 pesawat. Dia menyebut nilai pengadaan dan operasional armada itu terlalu tinggi.

“Ini pengadaannya yang nilainya terlalu tinggi sehingga pada saat pengoperasiannya itu nilai biaya operasionalnya itu lebih tinggi daripada pendapatannya,” kata Ateh pada kesempatan yang sama. Kerugian tersebut merupakan hitungan untuk pengadaan dan pengoperasian pesawat regional jangka pendek mulai 2011 sampai dengan 2021. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Close