Ragam

HARGA AVTUR TURUN, TARIF TIKET MENYUSUL

Infopenerbangan – Momen liburan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 mendatang, nampaknya sedikit memberikan gairah di bisnis penerbangan. Pasalnya Pertamina memberikan diskon harga avtur sebesar 20% yang berlaku mulai 9 Desember 2019 hingga 31 Januari 2020.

Langkah Pertamina ini dimaksudkan untuk mendukung kelancaran transportasi udara bagi masyarakat selama masa Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 mendatang, sekaligus guna mendukung sektor transportasi udara nasional.

Pemberian diskon ini diberlakukan di beberapa bandara di Wilayah Timur Indonesia (WTI) yang merupakan bandara-bandara feeder yang melayani penerbangan lanjutan dari/ke daerah-daerah terpencil di Indonesia.

Berdasarkan harga posting price Pertamina bulan Desember 2019 dibandingkan dengan harga avtur per bandara pada bulan yang sama tahun 2018, memang terlihat adanya penurunan yang cukup signifikan di bandara tertentu, khususnya Manado, Ambon, Kupang, Sorong, dan Jayapura. Sedangkan untuk rata-rata penurunan seluruh bandara di domestik sekitar 16 persen. Terkait turunnya harga avtur ini tentunya membawa angin segar di bisnis penerbangan, dimana diharapkan akan berdampak pada menurunnya harga tiket pesawat.

Seperti diketahui, porsi biaya avtur maskapai rata-rata sekitar 35 persen dari total biaya operasional. Sehingga naiknya harga avtur mengakibatkan banyak maskapai megap-megap akibat meningkatnya biaya operasional khususnya biaya avtur yang naik sekitar 3,2 persen. Beban berat maskapai diperparah dengan terus melemahnya nilai tukar rupiah yang mengakibatkan kenaikan biaya perusahaan sekitar 2,1 persen. Sehingga secara total maskapai mengalami kenaikan biaya sekitar 5,3 persen.

Akibat meningkatnya biaya operasional tersebut, beberapa maskapai merugi seperti Garuda pada 2017 rugi Rp 2,8 Trilyun, dan 2018 rugi Rp 2,5 Trilyun. Begitu juga dengan AirAsia pada 2017 dan 2018 juga merugi. Pada 2018 AirAsia rugi hampir Rp 1 Trilyun atau 2 kali lipatnya dibanding tahun 2017. Sriwijaya juga nyaris bangkrut karena pada 2018 rugi sebesar Rp 1,2 Trilyun. Maskapai lainnya seperti Lion Group, Transnusa dan lainnya diperkirakan juga mengalami hal yang sama.

Maskapai waktu itu berharap ada penyesuaian tarif yang sejak 2017 belum dilakukan, karena terbentur aturan Kemenhub, dimana jika biaya belum naik 10 persen tarif belum boleh disesuaikan.

Akibat menunggu penyesuaian yang tak kunjung terlaksana, maka langkah yang mungkin dilakukan maskapai adalah memangkas tarif sub classes dan hanya menjual harga minimal Y (ekonomi) sehingga tarif sedikit terkerek naik.

Ditambah adanya insentif dari operator bandara dan navigasi, hasilnya pada Kuartal II 2019, kinerja AirAsia mampu meraih laba bersih Rp 11 milyar. Begitu pula dengan Garuda mampu meraih laba bersih Rp 56 Milyar. Apalagi sekarang Pertamina memberikan diskon avtur sebesar 20 persen, maka kinerja maskapai pada kuartal IV-2019 diperkirakan akan positif.

Jika pada tahun 2017-2018 maskapai mengalami masa sulit akibat kurang sigapnya regulator membantu kesulitan maskapai, maka pada 2019 regulator sudah menjawab melalui berbagai insentif dan diskon. Berarti, sudah saatnya maskapai kembali ke khittah “2016”. Alasannya secara total biaya maskapai sudah lebih rendah atau kurang lebih setara dengan kesepakatan tahun 2016. Jadi maskapai hendaknya bisa segera menurunkan kembali tarif tiketnya sehingga lebih terjangkau oleh masyarakat.

Namun idealnya, insentif dan diskon avtur yang diberikan pemerintah tidak sebatas hanya hingga akhir tahun 2019, tapi diharapkan bisa terus berlanjut hingga tahun mendatang, untuk memberi ruang kepada maskapai mampu terbang tinggi lagi.

Memetik pelajaran dari kondisi diatas, memang diperlukan fleksibilitas baik dari regulator maupun operator untuk memberikan keseimbangan yang saling menguntungkan di bisnis penerbangan termasuk mengakomodir kepentingan pengguna jasa.

Win-win solution harus menjadi barometer, jangan sampai BUMN penerbangan lainnya survive dan untung, tapi maskapainya buntung dan menyusul 28 maskapai penerbangan domestik yang sudah berguguran dan gulung tikar sejak era 2000-an. (*Galih Raden/Trend Aviation*)

Baca opini menarik lainnya:

ANTARA MIMPI DAN HARAPAN

MENATAP MASA DEPAN PARIWISATA NASIONAL

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close