DomestikHot NewsNews

PERJALANAN DRAMA GARUDA INDONESIA

NASIB GARUDA INDONESIA KINI

Infopenerbangan,- Perjalanan drama garuda indonesia saat ini. Tulus Abadi selaku Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia disingkat YLKI menjabarkan beberapa pendapatnya yang di lansir dalam Koran Tempo mengenai nasib Garuda Indonesia saat ini.

Predikat Garuda Indonesia (GA) sebagai maskapai penerbangan yang berkelas nampaknya sekarang mulai mengalami penurunan. Maskapai ini, menyandang status layanan penuh hotel bintang lima, tapi lama kelamaan GA justru mengalami penurunan  di berbagai lini pelayanan.

Klimaks dari drama ini adalah, Serikat Pekerja GA dan bahkan Asosiasi Pilot Garuda (APG) menantang mogok kerja pada akhir mei mendatang. Di dalam Pres Release yang dikeluarkan oleh Serikat Pekerja GA dan Asosiasi Pilot Garuda Indonesia pada tanggal 2 mei 2018 tersebut. Bahkan, telah mengeluarkan kata-kata “Besar harapan kami pemerintah/pemegang saham dapat memenuhi permintaan tersebut, jika tidak dapat dipenuhi, maka dengan berat hati kami di waktu yang tepat akan melakukan MOGOK.” Di dalam konteks perlindungan konsumen mogok kerja karyawan, apalagi pilot sebagai profesi merupakan tindakan yang tidak bisa di toleransi.

Namun aksi tersebut, bukan menuntut hak mereka sebagai karyawan melainkan upaya agar dapat mengembalikan citra GA sebagai maskapai bergengsi dan bahkan menyelamatkannya dari kebangkrutan.

BEBERAPA HAL YANG TERJADI PADA GA                     

 Beberapa hal yang terjadi belakangan ini terhadap Garuda Indonesia. Yang pertama, buruknya One Time Perfomance (OTP), padahal OTP ini merupakan roh dari sebuah maskapai. Bayangkan saja, saat ini OTP Garuda Indonesia sangat menurun bagi skala nasional maupun skala ASEAN, OTP terakhir GA hanya mendapatkan skor 72-75 padahal skor untuk sebuah maskapai adalah 85. Konsumen di beberapa bandara sering protes atas layanan Garuda Indonesia karena seringnya terjadi penundaan keberangkatan (Delay).

 Kedua, layanan GA di berbagai lini ikut mengalami penurunan, terutama dari aspek layanan kabin, seperti hilangnya tissue basah, koran, makanan dan minuman. Bahkan ada suatu insiden pembagian makanan ringan dilakukan saat proses boarding demi menghemat waktu karena kurangnya pramugari.

Garuda Indonesia tidak boleh terpuruk dan harus tetap menjadi operator penerbangan yang bergengsi.

 MENGAPA HAL TERSEBUT BISA TERJADI?

Pertama, manajemen GA melakukan pemotongan anggaran demi efesiensi. Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan efesiensi. Namun, jika efesiensi berujung pada merosotnya pelayanan atau bahkan berpotensi tidak aman ini jelas mismanagement di internal manajemen Garuda Indonesia.

Kedua, Garuda Indonesia menerapkan sistem baru yang belum teruji keandalannya. Iya memang benar itu sistem baru warisan manajemen lama, tapi jika sistem baru itu belum pernah teruji mengapa dijalankan? Berantakanlah hasilnya. Manajemen Kru Kabin menjadi acak-acakan contoh, berdasarkan sistem kru kabin dinyatakan sedang bertugas, tapi faktanya tidak. Akibatnya jadwal penerbangan pada maskapai ini menjadi kacau dan keterlambatan panjang tidak bisa di hindari.

Ketiga, Pemerintah (Khususnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara) terlalu gegabah dalam menempatkan personel yang tidak kompeten di dalam bidangnya, hal ini terjadi karena anggota direksi adalah orang-orang perbankan dan konsultan yang pengetahuannya nol di dalam bisnis sektor penerbangan. Bahkan, posisi direktur operasional dan direktur keselamatan yang seharusnya di isi oleh orang teknis (pilot), eh malah di lego ke orang-orang non maskapai.

Keempat, saat ini kondisi kian berantakan dan bisa di duga di lakukan dengan sengaja. Bahkan bisa jadi Garuda Indonesia di rancang akan “dimerpatikan” dan kemudian memberikan ruang yang sangat besar bagi maskapai tertentu. Industri penerbangan di indonesia kini sedang dalam puncak persaingan yang sangat ketat.

Agar rencana aksi mogok pekerja pilot ini tidak terjadi dan Garuda Indonesia tidak sekarat secara sistematis, harus ada langkah penyelamatan yang cepat. Baik manajemen GA maupun pemerintah jangan menggunakan “jurus mabuk” dalam memasang personel manajemennya.

(*/TZ)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker