Ragam

SOLUSI TIKET MAHAL (2)

Infopenerbangan – Solusi ideal untuk menurunkan harga tiket adalah aspek pemicu ekonomi biaya tinggi maskapai yaitu kurs USD, biaya avtur, biaya bandara dan navigasi perlu disesuaikan.

Poin penting lainnya adalah, sebaiknya kita semua harus “tidak sepakat” dengan anggapan bahwa, tarif maskapai mesti murah dan kalau bisa sama dengan moda transportasi lain.

Logika perbandingan sederhana ini bisa menjadi dasar pertimbangan yaitu, harga pesawat yang bernilai investasi trilyun, harga kapal laut yang bernilai ratusan milyar, harga gerbong kereta yang bernilai puluhan hingga ratusan milyar dan harga bus yang bernilai ratusan juta, tentunya memiliki implikasi yang berbeda pada harga jual atau besaran tarif masing-masing. Wajar jika biaya transportasi ke tujuan dan jarak yang sama untuk masing-masing moda diatas akan memiliki perbedaan termasuk aspek kecepatan dan layanan.

SALAH DIAGNOSIS TURUNKAN TARIF, MASKAPAI TERANCAM BANGKRUT

Jika dipaksakan dengan cara diluar solusi diatas, dikhawatirkan akan menemui kegagalan dan bisa merugikan bisnis penerbangan nasional sendiri. Mungkin kita belum lupa, bahwa sejak era Low Cost dan menjamurnya maskapai penerbangan di tahun 2000-an, sudah 28 maskapai penerbangan domestik yang jatuh bangun dan akhirnya gulung tikar.

Maskapai domestik yang stop operasi akibat tak kuat menahan beban berat ditengah persaingan yang ketat di kancah domestik antara lain, Awair (2001), Indonesian Airlines (2003), Seulawah NAD Air (2003), Bouraq (2005), Air Paradise (Nov 2005), Efata Air (Feb 2007), Bali Air (Feb 2007),Asia Avia (Feb 2007), Top Air (Feb 2007), Nurman Avia (2007), Star Air (2008), Adam Air (Mar 2008), Jatayu (Apr 2008), Dirgantara Air Service (2009), Linus (Apr 2009), Megantara Cargo (Mei 2009), Kartika Airline (Jun 2010), Sabang Merauke Air Carter/SMAC (Feb 2011), Nusantara Buana Air (2011), Riau Air (2012), Pasific Royale (Nov 2012), Batavia (Jan 2013), Merpati (Feb 2014), Mandala (Apr 2012 & Jul 2014), Sky Aviation (2014), Air Maleo (2015), Manunggal (2015) dan Kalstar (Sep 2018). (*)

Berita Terkait: DORONG PROGRAM DESTINASI PARIWISATA PRIORITAS SEBAGAI AKSELERATOR KEBANGKITAN EKONOMI (3)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close