Highlight

Sultan Thaha, Bandar Udara Berkonsep Kebun Binatang

Jambi terletak di pesisir timur di bagian tengah Pulau Sumatera. Sekaligus satu dari tiga provinsi yang ibukotanya bernama sama dengan nama provinsinya, selain Bengkulu dan Gorontalo. Wilayah ini dikenal berslogan “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah“ sebagai penggambaran luasnya wilayah Kesultanan Melayu Jambi yang mencakup Sembilan Lurah di kala pemerintahan Orang Kayo Hitam.

Bandar udara berkode IATA: DJB dan ICAO: WIPA ini berhadapan dengan Kebun Binatang Taman Rimbo. Jadi, Jambi bakal menjadi provinsi pertama di Indonesia berkonsep Zoo Airport. Pembangunan Zoo Airport ini merupakan gagasan dari Dorma Manalu, mantan General Manager Bandar Udara Sultan Thaha dan Salahduin Rafi, mantan Direktur Pengembangan Kebandarudaraan dan Teknologi PT Angkasa Pura II saat itu. Memang kebetulan, sebab kebun binatang tersebut sudah ada sejak 1973. Kini, sejak 19 Januari lalu, Tamzil ditunjuk sebagai General Manager baru di gerbang udara terbesar di Jambi ini.

Dengan adanya pembangunan Zoo Airport ini, diharapkan nantinya masyarakat ketika memasuki kawasan bandar udara dapat menikmati suasana kebun binatang dan melihat binatang yang dikoleksi. Sehingga, akan dibuat jalan penghubung antara kebun binatang menuju terminal baru.

PT Angkasa Pura II akan terus mengembangkan pintu udara potensial untuk komersialisasi. Salah satunya dengan menggandeng investor, terutama dalam perubahan bandar udara berkonsep aerotropolis (didesain green airport dan kota metropolitan). Anggaran yang disiapkan untuk investasi pengembangan bandara di Jambi adalah Rp 444 miliar.

Berbagai pihak mengharapkan gerbang udara yang berdesain Zoo Airport ini dapat rampung pada akhir 2015. Sebab, terminal lama kurang diminati penumpang, karena daya tampung yang sudah melebihi kapasitas.

Berdasarkan pantauan AVIASI di bandar udara yang dioperasikan sejak Pemerintah Jepang kemudian Djawatan Penerbangan Sipil 1950-1970 ini banyak penumpang yang datang ke airport pada menit-menit terakhir, karena akses ke bandara mudah dijangkau. Faktor lain banyak penumpang yang kurang nyaman berlama-lama di bandar udara.

Tim Project Implementation Unit (PIU) menyatakan hingga minggu ketiga Januari lalu, terminal baru masih dalam proses pengembangan. Dan, bila diikuti dari rencana awal, baru terealisasi 50 persen. Beberapa bagian yang juga masih dalam pengerjaan, yakni apron yang tahun ini ditargetkan rampung, parkir kendaraan, dan area perkantoran. Sementara untuk tower setinggi 26 meter sudah jadi.

Selanjutnya, interior gedung terminal akan kental bernuansa binatang layaknya di taman margasatwa. Pengerjaan interior juga telah dilakukan dari terminal keberangkatan, ruang tunggu maupun ruang kedatangan, namun hingga pertengahan Januari lalu, pengerjaanya belum rampung. Motif angsa duo yang ciri khas Jambi juga menghiasai beberapa dinding gedung baru tersebut.

Bagaimanapun kondisi tersebut, adanya bandar udara ini cukup memberikan keuntungan bagi pengguna jasa penerbangan. Secara geografis, terminal lama dan terminal baru letaknya berdekatan, masih dalam satu kawasan. Airport ini berbeda dengan kota lainnya, keduanya berada di jalur strategis Jambi, bisa ditempuh sekitar 10 menit dari pusat kota. Jalan raya kabupaten ke ibukota berada persis di depan bandar udara.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close