Hot NewsUncategorized

TANGAN DINGIN ARI ASKHARA, GARUDA MAMPU TURNAROUND DARI BUNTUNG MENJADI UNTUNG

Infopenerbangan – Sinyal “turnaround” Garuda bisa jadi salah satu penyebabnya adalah moncernya kinerja ketepatan waktu (OTP) Garuda yang sangat memuaskan yaitu diatas benchmarking industry yang sebesar 85 persen.

Garuda Indonesia menjadi satu-satunya maskapai Asia Tenggara yang capaian OTP tahunannya di atas 90 persen. Jika dibandingkan dengan maskapai domestik lainnya seperti Air Asia, Batik Air, Lion Air dan Wings Air, OTP Garuda dan anak usahanya Citilink masih tetap yang terbaik.

Sumber: lokadata.id

Kinerja Garuda pada Kuartal III 2019 pasca dirampungkannya penerbangan Haji dan saat peak season, menjadikan Garuda mampu meraih laba sebesar USD98,97 juta atau setara dengan Rp1,4 Trilyun.

Secara kumulatif, hingga kuartal III 2019, Garuda mampu meraih laba sebesar USD122,82 juta atau setara dengan Rp1,73 Trilyun.

Padahal sebelumnya, kinerja keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) pada periode yang sama tahun 2018 jeblok alias merugi US$ 113,96 Juta atau setara Rp 1,60 Trilyun.

Dari poin kedua ini, babak baru perbaikan kinerja Garuda sebenarnya sudah mulai terlihat. Pasarpun merespon positif membaiknya kinerja Garuda dan harga saham GIAA,JK mampu bertengger di kisaran Rp 590 per lembar saham.

Namun Garuda seakan tak lepas dari turbulensi, ibarat pesawat yang senantiasa melewati awan dan terguncang karena adanya perubahan kecepatan udara. Bedanya, kali ini Dirut Garuda yang tengah mengalami turbulensi. Akibatnya perdagangan saham Garuda per Kamis (5/12/2019) tercatat turun menjadi Rp 490 per lembar saham.

Terlepas dari apa yang sedang terjadi, sosok Ari Askhara telah mengukir sejarah. Ari Askhara telah membuktikan bahwa dirinya is the champion. Beliau mampu membuktikan lebih baik dibanding para pendahulunya.

Berikut adalah data perbandingan 5 bulan pertama kinerja masing-masing Dirut Garuda Indonesia terhadap harga saham GIAA.JK:

  • Emirsyah Satar, 26/1/2011-31/5/2011 dari Rp 750-Rp 536 atau turun – 28,6 persen (pasca IPO, red)
  • Arif Wibowo, 12/12/2014-30/4/2015 dari Rp 605-Rp 595 atau turun – 1,7 persen
  • Pahala Mansury, 12/4/2011-31/8/2017 dari Rp 360-Rp 326 atau turun – 9,4 persen
  • Ari Askhara, 12/9/2018-30/1/2019 dari Rp 220-Rp 404 atau naik + 83,6 persen

.Berita Terkait: SAHAM GIAA,JK MEROSOT 10 PERSEN

<< Halaman Berikutnya (4) : Komentar Pengamat Penerbangan Arista Atmadjati >>

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close