HighlightUncategorized

MENERKA KEPAK SAYAP GARUDA PASCA RUPSLB

Infopenerbangan – PT Garuda Indonesia tbk (Persero) sukses menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di GICC, Kawasan Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Rabu (22/01/2020).

Hasil RUPSLB tersebut akhirnya memutuskan pergantian Komisaris dan Direksi baru yang sebagian diisi wajah baru diluar internal Garuda Indonesia. Dan yang menarik, ada posisi baru yaitu Wakil Komisaris dan Wakil Direktur yang sebelumnya tidak pernah ada.

Pasca pergantian direksi Garuda , nampaknya pasar saham belum merespon positif. Hal ini terlihat dari masih landainya harga saham GIAA,JK dan bahkan harga saham cenderung turun.

Nampaknya para pelaku pasar saat ini masih wait and see, menunggu kinerja Garuda pasca bersih-bersih. Harga saham Garuda Indonesia bakal membaik apabila kinerja perseroan juga membaik.

Kembali ke soal pergantian Direksi Garuda, nampaknya arah dari pemilihan Direksi tersebut untuk memperkuat Garuda dari sisi IT dan diambil dari luar Garuda. Hal ini tercermin dengan ditunjuknya Irfan Setiaputra sebagai Direktur Utama yang merupakan mantan Direktur Utama PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti) yang sebelumnya fokus bergelut di bidang teknologi informasi.

Lalu kedua, Wakil Direktur Dony Oskaria, yang bersama Wakil Komisaris Chairal Tanjung merupakan wakil dari PT Trans Airways, pemegang 25,6 persen saham GIAA.

Yang ketiga, Direktur Layanan, Pengembangan Usaha, dan Teknologi Informasi, Ade R. Susardi yang berasal dari Nokia Siemens Networks.

Sedangkan lima orang Direktur lainnya yaitu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Fuad Rizal, Direktur Operasi Tumpal Manumpak Hutapea, Direktur Human Capital Aryaperwira Adileksana, dan Direktur Niaga dan Kargo M.Rizal Pahlevi, serta Direktur Teknik Rahmat Hanafi semuanya berasal dari internal Garuda Group.

Struktur organisasi juga mengalami sedikit perubahan dimana dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan Garuda Indonesia.

Direktorat Layanan sebelumnya ada di Direktur Teknik & Layanan. Sedangkan Pengembangan Usaha sebelumnya ada di Direktur Kargo & Pengembangan Usaha.

Sedangkan Direktorat Kargo digabung ke Niaga menjadi Direktur Niaga dan Kargo. Struktur ini berarti kembali ke era lama Garuda, dimana Niaga atau Marketing yang fokus di penumpang dan unit kargo digabung menjadi satu.

Jika operasi penerbangan Garuda yang saat ini masih bertumpu pada mix aircraft, hal ini wajar-wajar saja. Namun jika Garuda memiliki pesawat freighter (kargo) sendiri, idealnya terpisah, pasalnya karakteristik bisnis penumpang dan kargo berbeda. Bisnis kargo tidak sama dengan penumpang karena kargo lebih mendasarkan pada pola commodity network dan umumnya satu arah (one way traffic).

Mengenai penunjukkan Yenny Wahid sebagai Komisaris Independen karena dipandang sebagai figur yang mumpuni cukup masuk akal. Namun jika alasannya untuk menyelesaikan isu perempuan di Garuda, nampaknya tidak ada korelasinya. Kecuali Direksi memperbaiki dan merombak jajaran awak kabin Garuda Indonesia.

Dengan perombakan direksi dan struktur organisasi baru ini, mampukah Garuda Indonesia terbang tinggi dan melewati ”turbulensi” yang tengah dialaminya? Jawabannya cukup berat, jika kondisinya as is, dimana Garuda (juga maskapai lainnya), masih memikul beban berat kurs rupiah yang masih diatas Rp 10.000, beban utang, beban sewa pesawat, ditambah lagi jika tanpa adanya insentif avtur, biaya bandara dan navigasi.

Kalau dari sisi product, Garuda sebenarnya sudah bagus, terlihat dari raihan OTP terbaik di Asia Tenggara (versi OAG) dan kekuatan armada yang memadai dan laik terbang yang didukung anak usahanya Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia. Dari sisi layanan sudah dan lebih baik, bahkan soal hospitality telah menjadi barometer BUMN lain, contohnya KAI, layanan dan announcementnya sudah mirip di kabin pesawat.

Upaya Meneg BUMN untuk memperkuat Garuda dari sisi IT cukup make sense, karena sejalan dengan era revolusi industri 4.0 saat ini. Namun terpenting adalah bagaimana Garuda mampu menekan ekonomi biaya tinggi melalui berbagai langkah efisiensi. Yang paling krusial adalah restrukturisasi utang dan renegoisasi sewa pesawat guna menurunkan beban perseroan.

Garuda juga diharapkan mampu menggenjot potensi penerbangan internasional yang dikombinasikan dengan peran maksimal Citilink sebagai feeder domestik, serta meningkatkan penerbangan charter dan angkutan wisata internasional.

Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi punggawanya bukan orang penerbangan. Bisnis aviasi sangat berbeda, sangat regulated, lebih rumit karena terkait high-tech, butuh kemampuan untuk merangkul seluruh elemen di Garuda.

Jika semua ini bisa teratasi, maka bukan tidak mungkin, kepak sayap kinerja Garuda akan melesat terbang lebih tinggi lagi. Semoga. (*)

Galih Raden (Trend Aviation)

Berita Terkait: GARUDA INDONESIA PUNYA DIRUT BARU

Opini: MASKAPAI LIMBUNG YANG LAIN UNTUNG (1)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close