
InfoPenerbangan,- Kinerja Garuda Maintenance Facility Aero Asia atau GMF menunjukkan tren positif pada awal tahun 2026. Perusahaan jasa perawatan dan pemeliharaan pesawat tersebut berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan sepanjang kuartal pertama tahun ini.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, laba bersih GMF meningkat hingga 78 persen menjadi sekitar US$6,76 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka US$3,79 juta. Kenaikan ini turut didorong oleh pertumbuhan pendapatan perusahaan yang mencapai lebih dari US$114 juta hingga akhir Maret 2026.
Pertumbuhan bisnis GMF dinilai sejalan dengan meningkatnya aktivitas penerbangan global serta mulai pulihnya penggunaan armada pesawat di Indonesia. Tingginya kebutuhan layanan maintenance, repair, and overhaul (MRO) menjadi salah satu faktor utama yang menopang performa perusahaan.
Direktur Utama Garuda Maintenance Facility Aero Asia, Andi Fahrurrozi, mengatakan capaian tersebut menunjukkan fundamental bisnis perusahaan yang semakin kuat di tengah pemulihan industri penerbangan.
Selain memperkuat pasar domestik, GMF juga terus memperluas jangkauan internasional. Perusahaan diketahui menjalin kerja sama baru dengan sejumlah maskapai asal Korea Selatan, termasuk Airzeta dan T-Way. Tidak hanya itu, GMF juga berhasil menyelesaikan proyek perawatan pesawat berbadan lebar Airbus A330 milik Korean Air serta proyek penggantian roda pendarat untuk Fiji Airways.
Di pasar dalam negeri, GMF mencatat pencapaian penting dengan berhasil melakukan overhaul atau perombakan total mesin CFM56-5B milik Citilink secara mandiri untuk pertama kalinya. Proyek tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapan armada di lingkungan Garuda Indonesia Group.
Tak hanya fokus pada sektor penerbangan, GMF juga mulai memperluas sumber pendapatan melalui layanan keteknikan non-aviasi. Salah satunya melalui proyek normalisasi pembangkit listrik milik PLN Batam.
Ekspansi bisnis perusahaan turut diperkuat dengan tambahan sertifikasi dari otoritas penerbangan Aruba dan Selandia Baru. Sertifikasi tersebut membuka peluang GMF untuk memperluas layanan maintenance ke pasar internasional yang lebih luas.
Dari sisi keuangan, posisi modal perusahaan juga mengalami penguatan. Nilai ekuitas GMF meningkat menjadi sekitar US$140 juta hingga akhir Maret 2026, naik dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh laba berjalan dan aksi korporasi berupa penerbitan saham baru.
Manajemen GMF optimistis tren pertumbuhan bisnis akan terus berlanjut seiring meningkatnya kebutuhan layanan perawatan pesawat di berbagai negara.
Sementara itu, secara grup, Garuda Indonesia juga mencatat pertumbuhan pendapatan konsolidasi pada kuartal pertama 2026. Jumlah penumpang yang terus meningkat membantu perusahaan menekan kerugian bersih hingga lebih dari 45 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemulihan bertahap armada yang sebelumnya tidak beroperasi menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung stabilitas kinerja grup penerbangan nasional tersebut.(*)