Ragam

MENUJU BISNIS AVIASI YANG SEHAT (1)

BISA GAGAL TAKE OFF JIKA SALAH DIAGNOSIS DAN OBAT

Realitas terus bertumbuhnya jumlah penumpang pesawat udara yang meningkat rata-rata 9 persen per tahun, seharusnya bisa memberikan harapan bagi para pelaku bisnis penerbangan.

Namun disisi lain nilai tukar rupiah terhadap US Dolar yang tak kunjung menguat, dan volatilitas harga avtur malah berimbas pada meningkatnya biaya operasional penerbangan. Meningkatnya kedua aspek tersebut, merupakan momok bagi maskapai karena akan menggerus kinerja finansial maskapai penerbangan.

Manakala maskapai berupaya untuk menyesuaikan diri agar perusahaan bisa terus eksis dengan menyesuaikan tarif penerbangannya, justru menuai pro dan kontra. Pasar sudah terlanjur berlama-lama dimanja dengan tarif murah sejak tahun 2000-an saat dimulainya era low cost, sehingga begitu terjadi penyesuaian, pasar pun bergolak. Tiket pesawat dianggap terlalu mahal dan memberatkan masyarakat. Tudingan kartel pun menimpa maskapai, meski hal ini sulit untuk dibuktikan.

“Sebenarnya logika perbandingan sederhana bisa menjadi dasar pertimbangan yaitu, harga pesawat yang bernilai investasi trilyun, harga gerbong kereta yang bernilai puluhan hingga ratusan milyar dan harga bus yang bernilai ratusan juta, tentunya memiliki implikasi yang berbeda pada harga jual atau besaran tarif masing-masing. Wajar jika biaya transportasi ke tujuan dan jarak yang sama untuk masing-masing moda diatas akan memiliki perbedaan termasuk aspek kecepatan dan layanan. Justru hal ini menjadi tidak wajar jika harga ketiganya setara” ujar Galih Raden dari Trend Aviation.

Ia melanjutkan, hal ini sangat mirip dengan kebijakan subsidi pemerintah guna membantu masyarakat yang diberlakukan beberapa waktu sebelumnya.

“Begitu subsidi dicabut dan dikembalikan pada mekanisme harga pasar, masyarakat sebagai konsumen pun kaget dan langsung berteriak”, lanjutnya.

Dalam situasi yang kurang kondusif tersebut, beberapa maskapai mampu tetap bertahan, Namun jika menilik dari struktur utama biaya maskapai yang saat ini kurang berpihak pada bertumbuhkembangnya bisnis penerbangan nasional, maka baik maskapai Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya, NAM Air, Lion Air, Batik Air, Wing Air, Air Asia Indonesia, Trans Nusa, Expresss, Trigana dan Susi Air, diperkirakan mengalami sesak nafas akibat terus meningkatnya beban operasional.

Harapan maskapai hanyalah menunggu obat yang mujarab untuk memperbaiki diri, sembari menanti situasi yang lebih kondusif yaitu menguatnya mata uang rupiah, atau adanya insentif avtur, insentif biaya bandara dan navigasi.

Namun belakangan justru berkembang adanya wacana untuk melibatkan maskapai asing ikut andil dalam penerbangan domestik guna menekan harga tiket menjadi lebih murah. Hal ini jika diimplementasikan justru akan semakin menambah beban berat di bisnis penerbangan nasional.

Berita Terkait: Penerbangan Asing Dilarang Beroperasi di Dalam Negeri Indonesia

“Padahal akar masalahnya adalah pada kedua aspek diatas, yaitu kurs US Dollar dan harga avtur, ditambah terlalu lama memanjakan tiket murah beberapa tahun sebelumnya. Ibarat salah mendiagnosis suatu penyakit dan salah dalam memberikan obat, wacana tersebut diperkirakan tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan. Kalau harga listrik naik apa harus datangkan PLN asing, tidak khan?. Contoh lain, orang Amerika/Eropa lebih memilih mobil buatan mereka sendiri, meski lebih mahal dibanding mobil Jepang, ini terkait aspek nasionalisme. Jadi pemerintah hendaknya mengkaji lebih mendalam untung rugi dan dampaknya pada bisnis penerbangan domestik”, tegasnya.

Luas wilayah udara nasional dan letak geografis Indonesia yang strategis, serta jumlah penduduk yang besar sekitar 265 juta orang, idealnya harus bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia  sendiri. Bukankah kepentingan nasional seharusnya lebih diutamakan?

Dengan adanya bargaining power yang dimiliki Indonesia tersebut, kendali harusnya ada di tangan Indonesia. Pemerintah dan regulator penerbangan Indonesia harusnya bisa mengambil sikap yang menguntungkan Indonesia, sekaligus dalam rangka melindungi kepentingan udara dan integritas udara nasional. (*)

Bersambung (2) : Opsi Hidupkan Merpati Mungkinkah?

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close